Bismillah...
Sesungguhnya manusia yang selalu memperbaiki diri adalah manusia yang tahu akan kelemahan dirinya. Adakah manusia yang bisa menjamin akan kehidupannya di dunia? Adakah manusia yang bisa menjamin kehidupannya di akhirat? Tidak. Itu adalah bukti dari kelemahan manusia. Dia diciptakan dari setetes air mani,
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (76:2)
Allah Swt. Menciptakan kita dari setetes mani yang kemudian Ia tiupkan ruh ke dalam jasad. Tak bisa dipungkiri oleh manusia sedikitpun bahwa dirinya itu lemah, tak punya daya apapun saat dilahirkan. Dia hanya bisa menangis, merengek, meminta perlindungan dari yang lebih kuat dari dirinya. Seorang bayi menangis setelah buang air, dia menangis karena respon yang bisa dia lakukan dari hasil kerjanya hanyalah menangis. Menangis meminta pertolongan pada kedua orang tuanya. Begitu pun saat lapar, dia akan menangis karena tindakan yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.
Kelemahan adalah suatu identitas yang memang harus disadari setiap makhluk. Selalu ada batasan batasan fitrah dalam setiap perilakunya. Ciptaan selalu harus tunduk pada yang menciptakan, karena Yang Menciptakan tentu saja memiliki kekuatan. Berbeda dengan yang diciptakan, lemah dan tidak mempunyai apa apa.
Tidaklah seorang manusia pantas berbangga diri, merasa diri paling benar, paling suci, apalagi menganggap dirinyalah yang pantas masuk surga. Tidak. Itu tidak benar. Siapakah manusia yang begitu sombong bisa memastikannya selamat di hari pembalasan kelak?
saudaraku...
banyak sekali pemimpin pemimpin kita yang tidak menyadari kelemahannya. mereka merasa kuat, bahkan yang paling kuat. dengan bekal kekuasaan, mereka merampas hak-hak orang miskin, menelantarkan mereka dan menjadikan mereka sebagai tempat untuk menaikan popularitas saat saat tertentu.
saat ini terlalu banyak manusia sombong yang dengan kesombongannya berbuat kerusakan di muka bumi, mereka putar balikkan fakta, membeli kebenaran dengan uang, padahal mereka sebenarnya tahu hakikat dari kehidupan, namun mereka enggan untuk mengakuinya, mengakui bahwa hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Mereka menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahanya mereka isi perutnya dengan bara api. Mereka merasa dirinya akan hidup selamanya, mereka tidak menyadari akan kelemahannya..
Ikhwahfillah rahimakumullah..
Sudah sepantasnya bagi kita untuk menghamba pada Allah Swt. Menyerahkan diri kita setulus dan sepenuh jiwa pada-Nya. Sungguh segala sesuatu yang kita lakukan sudah tercatat dalam lauhul mahfudz. Namun bukan berarti kita menerima saja takdir yang Allah Swt. Berikan pada kita, kita diberikan pilihan oleh Allah Swt. Untuk berikhtiar, berusaha dengan sekuat tenaga. Saat kita sudah berusaha, maka kita serahkan hasilnya pada Allah Swt.
Sahabatku yang dicintai Allah Swt.
Manusia yang sadar betama lemah dirinya, takkan bersandar pada makhluk. Dia sadar bahwa makhluk akan mati, hidupnya fana, akan rusak, maka dia tidak menjadikan makhluk sebagai penolongnya. Namun seseorang yang menggunakan akalnya menyadari bahwa yang pantas untuk dijadikan sebagai sandaran, sebagai penolong hanyalah Allah Swt.
Manusia yang menjadikan manusia lain sebagai sandaran adalah manusia yang sombong. Kepongahan dari hatinya menolak keberadaan Allah Swt. Ia tidak mau bersandar pada Khaliq nya, Yang menciptakannya. Ia merasa kuat, memiliki segala kemampuan dan kekuatan.
Mungkin saja kekuatan yang dia dapatkan itu, baik berupa kekuasaan di dunia, harta yang berlimpah, merupakan suatu hukuman yang Allah Swt.ditangguhkan bagi mereka, agar mreka dimasukan langsung kedalam neraka.
Wahai saudara saudaraku, mari kita sadari bahwa kita ini lemah, kita membutuhkan pertolongan dari Sang Pencipta. Kita tidak punya daya dan upaya melainkan dari Allah Swt. Mari kita perbaiki diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.. insy.
Wallahu’alam bishawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar