HidUp Ini HanYa SemEnTarA

ALLAHUAKBAR!!!!!!!!!!

Rabu, 27 April 2011

manusia itu lemah..

Bismillah...

Sesungguhnya manusia yang selalu memperbaiki diri adalah manusia yang tahu akan kelemahan dirinya. Adakah manusia yang bisa menjamin akan kehidupannya di dunia? Adakah manusia yang bisa menjamin kehidupannya di akhirat? Tidak. Itu adalah bukti dari kelemahan manusia. Dia diciptakan dari setetes air mani,

“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.” (76:2)

Allah Swt. Menciptakan kita dari setetes mani yang kemudian Ia tiupkan ruh ke dalam jasad. Tak bisa dipungkiri oleh manusia sedikitpun bahwa dirinya itu lemah, tak punya daya apapun saat dilahirkan. Dia hanya bisa menangis, merengek, meminta perlindungan dari yang lebih kuat dari dirinya. Seorang bayi menangis setelah buang air, dia menangis karena respon yang bisa dia lakukan dari hasil kerjanya hanyalah menangis. Menangis meminta pertolongan pada kedua orang tuanya. Begitu pun saat lapar, dia akan menangis karena tindakan yang bisa dia lakukan hanyalah menangis.

Kelemahan adalah suatu identitas yang memang harus disadari setiap makhluk. Selalu ada batasan batasan fitrah dalam setiap perilakunya. Ciptaan selalu harus tunduk pada yang menciptakan, karena Yang Menciptakan tentu saja memiliki kekuatan. Berbeda dengan yang diciptakan, lemah dan tidak mempunyai apa apa.

Tidaklah seorang manusia pantas berbangga diri, merasa diri paling benar, paling suci, apalagi menganggap dirinyalah yang pantas masuk surga. Tidak. Itu tidak benar. Siapakah manusia yang begitu sombong bisa memastikannya selamat di hari pembalasan kelak?

saudaraku...

banyak sekali pemimpin pemimpin kita yang tidak menyadari kelemahannya. mereka merasa kuat, bahkan yang paling kuat. dengan bekal kekuasaan, mereka merampas hak-hak orang miskin, menelantarkan mereka dan menjadikan mereka sebagai tempat untuk menaikan popularitas saat saat tertentu.

saat ini terlalu banyak manusia sombong yang dengan kesombongannya berbuat kerusakan di muka bumi, mereka putar balikkan fakta, membeli kebenaran dengan uang, padahal mereka sebenarnya tahu hakikat dari kehidupan, namun mereka enggan untuk mengakuinya, mengakui bahwa hidup yang sebenarnya adalah di akhirat kelak. Mereka menjadikan hawa nafsunya sebagai sesembahanya mereka isi perutnya dengan bara api. Mereka merasa dirinya akan hidup selamanya, mereka tidak menyadari akan kelemahannya..

Ikhwahfillah rahimakumullah..

Sudah sepantasnya bagi kita untuk menghamba pada Allah Swt. Menyerahkan diri kita setulus dan sepenuh jiwa pada-Nya. Sungguh segala sesuatu yang kita lakukan sudah tercatat dalam lauhul mahfudz. Namun bukan berarti kita menerima saja takdir yang Allah Swt. Berikan pada kita, kita diberikan pilihan oleh Allah Swt. Untuk berikhtiar, berusaha dengan sekuat tenaga. Saat kita sudah berusaha, maka kita serahkan hasilnya pada Allah Swt.

Sahabatku yang dicintai Allah Swt.

Manusia yang sadar betama lemah dirinya, takkan bersandar pada makhluk. Dia sadar bahwa makhluk akan mati, hidupnya fana, akan rusak, maka dia tidak menjadikan makhluk sebagai penolongnya. Namun seseorang yang menggunakan akalnya menyadari bahwa yang pantas untuk dijadikan sebagai sandaran, sebagai penolong hanyalah Allah Swt.

Manusia yang menjadikan manusia lain sebagai sandaran adalah manusia yang sombong. Kepongahan dari hatinya menolak keberadaan Allah Swt. Ia tidak mau bersandar pada Khaliq nya, Yang menciptakannya. Ia merasa kuat, memiliki segala kemampuan dan kekuatan.

Mungkin saja kekuatan yang dia dapatkan itu, baik berupa kekuasaan di dunia, harta yang berlimpah, merupakan suatu hukuman yang Allah Swt.ditangguhkan bagi mereka, agar mreka dimasukan langsung kedalam neraka.

Wahai saudara saudaraku, mari kita sadari bahwa kita ini lemah, kita membutuhkan pertolongan dari Sang Pencipta. Kita tidak punya daya dan upaya melainkan dari Allah Swt. Mari kita perbaiki diri kita untuk menjadi pribadi yang lebih baik dari hari ke hari.. insy.

Wallahu’alam bishawab

Rabu, 13 April 2011

keikhlasan

keikhlasan, ,

OPINI | 13 April 2011 | 21:370 0 Nihil

sering sekali kita mendengar tentang ikhlas, ikhlas dalam berbuat, ikhlas dalam bertindak, ikhlas dalam beribadah. namun apakah dari kita semua sudah mengenal hakikat dari ikhlas itu sendiri? nyatanya belum semua dari kita mengetahuinya.

ikhlas adalah melakukan suatu perbuatan hanya mencari keridhoan Allah Swt. apabila kita melakukan suatu perbuatan yang diniatkan bukan karena Allah, maka bisa dikategorikan sebagai sebuah bentuk Syirik kecil. banyak hal yang besar menjadi kecil dan berapa banyak hal kecil menjadi besar dimata Allah Swt. semuanya tergantung dari niat. saat kita melakukan amalan besar namun dengan niat untuk dipuji orang, untuk dilihat wanita tercinta, untuk di sanjung bawahan, maka semua itu akan menjadi sia sia alias tidak bernilai di mata Allah Swt. sedangkan perbuatan kecil yang diniatkan untuk mencari ridha Allah, seperti memungut sampah yang berada di jalan, berdzikir secara sembunyi sembunyi, maka akan mempunyai nilai yang lebih di sisi Allah Swt.

Rasulullah bersabda :

“Sesungguhnya setiap amalan itu dengan niat, dan sesungguhnya bagi seseorang itu apa yang diniatkannya. Sesiapa yang hijrahnya itu kerana Allah dan rasulnya, maka hijrahnya itu kepada Allah dan rasulnnya. Sesiapa yang hijrahnya kerana dunia yang akan didapatinya atau kerana perempuan yang akan dikahwininya, maka hijrahnya adalah bergantung kepada tujuan dia berhijrah.”

yupz. Rasulullah bersabda bahwa segala amalan itu tergantung niatnya, ada yang niatnya karena mencari popularitas, karena syahwat membimbingnya untuk mencari pujian wanita, bahkan ada yang beramal hanya untuk mendapatkan jabatan yang mungkin akan memasukannya kedalam lembah neraka.

ibnu Qayim pernah berkata bahwa amalan hati adalah yang utama, sedangkan anggota badan adalah penyempurna. luruskan dahulu niat kita, setelah itu baru lakksanakan amalan mu dengan mengerjakanya. kerjakan dengan penuh ketulusan karena Allah.. sungguh teman teman ku, ketika kita melakukan sesuatu bukan karena Allah Swt. maka amalan kita tidak akan menjadi apa apa dihadapan Allah Swt.

dalam syahadat risalah sesungguhnya kita sudah dimintai suatu ikatan janji, syahadat risalah merupakan suatu pengikraran kita bahwa hanya Allah lah yang kita tuju, bahwa Allah lah yang kita sembah. tidak ada yang lain.

dalam beribadah, jangan lah kita niatkan untuk mendapatkan surga Allah,, karena amalan kita selama didunia takkan pernah mampu membayar kenikmatan kenikmatan yang Allah berikan pada kita.

nah, seandainya para pemimpin kita melakukan sesuatu karena keikhlasan pada Allah.. bekerja karena ibadah, maka negara ini takkan pernah di penuhi oleh koruptor koruptor keji. tidak akan diisi oleh manusia yang berhati lemah, lemah karena kalah oleh syahwatnya sendiri, kalah oleh hal hal kecil yang berbau nista..

banyak sekali pejabat yang bekerja hanya mencari kehidupan dunia, padahal dunia ini lebih nista dari bangkai binatang yang membusuk.

mari kita tingkatkan keikhlasan kita, mari kita jadikan diri kita lebih baik. janganlah sebagai calon kader pemimpin bangsa, kita melupakan hal yang utama ini.

dahulu para syuhada rela mengorbankan darah mereka untuk kemerdekaan negara ini, maka ingatlah bahwa para ulama dan para santri telah berjuang. maka isi lah dunia ini, dengan penuh ketaqwaaan pada Allah Swt. taqwalah dengan cara ikhlas dalam setiap pekerjaan (ibadah) yang dilakukan….


Senin, 11 April 2011

kesederhanaan

ingatkah kita saat seorang pengantar surat hendak bertemu denga khalifah Umar Ra.? sungguh sangat lucu sekali, namun dibalik kelucuan itu terkandung sebuah pelajaran yang bisa kita ambil untuk perbaikan negara kita.
suatu hari seorang pengantar pesan dari kerajaan romawi hendak bertemu dengan AmirulMukminin (pemimpin orang-orang mukmin) Khalifah Umar Bin Khattab Ra. setelah berada di kota madinah, si pengantar pesan kemudian mencari - cari letak dimana istana Sang Amirulmukminin.. jauh dan semakin jauh mencari, tidak ada satu istanapun yang ia temukan, menyerah sudah sang pengantar pesan. kemudian dia bertanya pada penduduk sekitar dimana rumah Amirulmukminin.
"wahai orang muslim, tahukah engkau dimana letak Istana Khalifah Umar bin Khattab?" tanya sang pengantar pesan.
kemudian orang muslim itu mengantar sang pengantar pesan ke "istana" khalifah Umar Bin Khattab.
terkaget-kagetlah sang pengantar pesan. "inikah Istana Seorang pemimpin besar?" tanya sang pengantar pesan. kemudian dia masuk, meminta ijin lalu bertanya kembali, "dimanakah Amirul mukminin?"
dijawablah oleh keluarga sang Khalifah, "itu yang sedang tidur dibawah pohon"(maaf lupa pohon apa (n.n)
subhanallah... apa yang terlihat? sang Khalifah begitu sederhananya, rumah yang sama seperti rumah rakyat jelata, baju yang terdapat beberapa tambalan, makan dengan makanan yang seadanya,,sungguh mengenaskan sekali kalau kita bayangkan saat ini..
khalifah Umar bin khattab pernah suatu kali melihat keadaan Rasulullah yang tidur di atas tikar, dan terdapat bekas di salah satu bagian tubuh beliau,
kemudian umar bin Khattab menangis. umar menangis karena Rasulullah yang notabene adalah pemimpin kaum Muslimin, raja, seorang utusan yang dimuliakan. namun begitu sederhananya beliau... cukuplah dunia ini bagi orang orang kafir, karena akhiratlah untuk kita..

"Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk ke dalam kubur, Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu)(102:1-3)"

mari kita bermuhasabah diri, wahai para pemimpin di Indonesia, sudahkah kita merenung sejenak tentang keadaan anda saat ini? kalau belum ya berkacalah..
INGAT! Umar Ra. saja tidur di bawah pohon, beliau melakukan itu agar mudah di temui oleh rakyatnya yang ingin mengadukan atau melaporkan sesuatu, sungguh tidak ada jarak lagi dia dengan rakyatnya. orang yang mempunyai Wilayah dari mesir sampai semenanjung arab. itulah khalifah umar Ra. mencontoh kezuhudan Rasulullah dalam kesederhanaan..
sekarang sih pemimpin pemimpin kita kalo mau keluar pasti pake ajudan, pake pelindung, pake yang lain lain lah. mobil mewah, rumah real estate, dan lain sebagainya. sulit kita menemukan seorang pemimpin yang benar benar mau memberikan hartanya untuk rakyat, untuk ummat.
semoga generasi kitalah yang akan merubahnya, generasi yang lahir dari embrio-embrio perjuangan tak kenal lelah, generasi yang lahir dari tetesan keringaat para muslimin yang rela mengorbankan nyawanya untuk kemajuan Umat.
marilah kita berubah, mulai menyadari bahwa kesederhanaan itu lebih utama dan lebih menjaga kehormatan kita

wallahu'alam...

Sabtu, 09 April 2011

Muroqobah

terkenang dengan cerita sorang santri yang sangat disayangi gurunya. suatu ketika ada beberapa muridnya yang merasa sang guru terlalu pilih kasih terhadap murid yang disayanginya itu. setelah mendengar beberapa keluhan dari murid-muridnya, kemudian sang guru mengumpulkan semua muridnya, termasuk beberapa orang murid yang protes tadi dan murid yang disayanginya itu.
setelah semua berkumpul, sang guru menyuruh murid-muridnya kembali lagi esok hari dengan membawa seekor unggas. tibalah waktu dimana para murid berkumpul lagi dengan membawa seekor ayam. sang guru berkata pada murid-muridnya, "sembelihlah unggas yang kalian bawa, namun jangan sampai ada yang tahu, setelah selesai, kembalilah dan laporkan padaku kalau kalian sudah melaksanakan tugas dariku". mendengar perintah gurunya, murid murid pesantren itu langsung bergegas, mereka mencari tempat untuk menyembelih unggas yang mereka bawa. ada yang membawa ke gua, ada yang di atas pohon, ada yang di dalam kamar, banyak cara yang mereka lakukan hingga batas waktu yang ditentukan berakhir.
semua santri berkumpul lagi. semua telah melakukan apa yang diperintahkan sang guru, namun ada satu orang , satu orang yang menjadi santri kesayangan sang guru, tidak melaksanakan tugasnya dengan baik. mengapa?
para santri mulai meremehkan sang santri kesayangan guru. "tuh kan, guru kita salah menilai orang. masa murid yang ga bisa melaksanakan tugasnya dengan baik bisa lebih disayangi dari pada yang lain.." itulah beberapa tanggapan dari santri lain yang melihat kejadian tersebut.
sang guru tersenyum, lalu bertanya pada murid kesayangannya "wahai anakku, mengapa tak kau sembelih unggas itu?"
lalu sang murid menjawab, "wahai guruku yang dimuliakan Allah, engkau memerintahkan kami untuk menyembelih hewan ini, memang sungguh mudah tugas yang engkau berikan, namun tatkala engkau melarang ada yang melihat proses penyembelihannya, sungguh, inilah hal yang tersulit untuk dilakukan." itulah keluh sang murid.
sang guru melanjutkan, " wahai anakku, sulit seperti apa yang kau hadapi?"
"sungguh sulit, dan teramat sulit, memang mudah untuk melakukannya tanpa diketahui manusia, namun Allah Swt. Maha Tahu.. sudah saya peras akal ini untuk berfikir, tapi sungguh mustahil apabila saya bersembunyi dari Allah Swt." itulah jawaban bijak dari sang murid.
wahai saudaraku.. itulah salah satu jenis dari muroqobah.. merasa diawasi oleh Sang Penggenggam jiwa.

“Yang melihat kamu ketika kamu berdiri (untuk shalat) dan melihat pula perubahan gerak badanmu diantara orang-orang yang sujud”

( QS.Asy-Syura:218-219)

Allah mengetahui apa yang kita lihat, Allah mengetahui apa yang kita sembunyikan, saudara saudaraku sadarlah, bahwasanya kita selalu dekat dengan Allah, kapanpun dan dimanapun.

sangatlah ironis sekali saat kita melihat beberapa kejadian hari ini, kejadian yang membuat hati ini meringis kesakitan, membuat jiwa ini meleleh bagaikan cahaya yang mulai menangis, menangis melihat perbuatan perbuatan keji yang dilakukan oleh sebagian orang.

sadarkah saat kita berbuat nista, Allah selalu mengawasi kita? begitu pula saat anda menyaksikan, menonton, melihat sesuatu yang diharamkan syari'at? masya Allah,, seharussnya kita sadar, saat mata menatap layar, tanpa sengaja sebuah kamera merekam kejadian kejadian nista itu. apalagi kameraNya, kamrera Allah Swt yang akan merekam secara sempurna apa yang telah kita lakukan.

kejadian yang dialami oleh kalangan elite politik negara yang sedang mengalami transisi ini memang menjadi sebuah hikmah teersendiri bagi kita, manusia memang tempat hilaf dan salah, terkadang kita hanya melihat sesuatu dari kacamata hitamnya saja. jarang sekali kita menatap dari segi yang lain.

saudara-saudaraku.. marilah kita sadari bahwa Allah itu selalu mengawasi kita, melihat kita, hati-hatilah saat bertindak, sadarilah bahwa Allah lebih dekat dari batang tenggorokan kita.

Kamis, 07 April 2011

Tawakal kepada Allah Swt.

tidak sedikit orang yang tahu tentang tawakal, namun sedikit sekali orang yang memahami dan melaksanakannya. entah karena keegoisan hati atau kesombongan jiwa yang menyebabkan manusia itu lupa kepada Sang Maha Pencipta.
tawakal adalah kita menyerahkan diri sepenuhnya kepada Allah Swt. menyerahkan jiwa dan raga kita serta segala sesuatu yang kita miliki kepadaNya. harus kita sadari bahwa diri kita pada hakikatnya adalah milik Allah Swt. kita hanya diberikan pinjam atas segala sesuatu yang didapat dan dirasakan saat ini.
dengan tawakal, manusia sudah mengakui bahwa dia adalah makhluk lemah. makhluk yang hanya bisa meminta dan meminta pada Yang Maha Kuasa. dia yakin bahwa yang berhak mengatur takdir hanyalah Allah, karena Allah adalah pemilik ilmu dan pemilik kekuasaan yang hakiki.
ingatlah kita kisah saat RAsulullah Saw. menggenggam segenggam pasir, kemudian beliau melemparkan pasir itu ke barisa musuh musuh Allah. sungguh-
"Maka (yang sebenarnya) bukan kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah-lah yang membunuh mereka, dan bukan kamu yang melempar ketika kamu melempar, tetapi Allah-lah yang melempar. (Allah berbuat demikian untuk membinasakan mereka) dan untuk memberi kemenangan kepada orang-orang mukmin, dengan kemenangan yang baik. Sesungguhnya Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui." (8:17)
-Allah yang sebenarnya melempar, dengan syari'at lemparan pasir itu, menanglah kaum muslimin. karena pasir yang dilempar Rasulullah mengenai semua mata para musuh Allah..
Maha Suci Allah.. pertolongan Allah datang pada siapa saja yang berserah diri padaNya.
ketenangan dalam menghadapi cobaan akan dirasakan oleh manusia yang menyerahkan diri kepada Sang Pencipta, Allah Swt. , dia yakin dimanapun berada, bagaimanapun terjepit posisinya, dia yakin dengan pertolongan Allah.
seorang insan yang bertawakal akan terjaga dirinya dari kemusryikan. tauhidnya terjaga dari segala bentuk penghambaan, dia hanya akan menghamba pada Allah Swt.